Cerpen

tiga botol susu,dan sebuah pengorbanan

Pagi itu, langit masih kelabu. Suara ayam bersahutan, tapi hatiku terasa sangat sesak. Di rumah petak berukuran 3×4 meter yang kami sewa di pinggiran kota, aku duduk memandangi wajah anakku yang tertidur di pelukan ibunya.

Wajah polosnya begitu damai, tanpa tahu bahwa hari ini mungkin kami tak akan bisa lagi memberinya susu.

Ibumu bilang, “susu hanya bisa untuk tiga botol, Yah,” ucap istriku lirih semalam, saat kami berbaring di kasur tipis. “Besok kita harus cari cara.”

Aku hanya mengangguk, membalikkan badan, lalu berpura-pura sudah tertidur. Tapi sebenarnya, otakku terus bekerja. Aku tahu tak banyak pilihan.

Uang? Tak ada. Tabungan? Sudah lama habis. Barang berharga? Hanya satu: ponselku.

Dan itulah saat rencana itu terbentuk.


Pagi harinya, aku menyambar tas selempang butut dan menyapa istriku yang sedang menyuapi anak kami.

“Mau ke mana, Yah?” tanyanya.

“Mau mencoba tanya-tanya kerjaan. Siapa tahu ada yang butuh tukang atau kuli harian,” jawabku, mencoba tersenyum.

Istriku mengangguk. “Hati-hati ya… Jangan lupa sarapan dulu.”

Aku hanya menggeleng. “Nanti saja di jalan.”

Padahal, perutku memang lapar. Tapi rasa bersalah jauh lebih menyiksa daripada rasa lapar yang kurasakan. Aku keluar rumah dengan langkah berat.

Langsung aku menuju konter ponsel langganan, tempat biasa aku ngisi pulsa. Pemiliknya, Pak Pauzen, menyapaku.

“Mau dijual, Mas?” tanyanya saat aku meletakkan ponsel di atas meja.

Aku mengangguk. “Butuh uang, Pak. Buat beli susu anak.”

Ia menatapku dalam. Lalu menimbang-nimbang sebentar. “Saya mau beli, tapi paling gak banyak. HP begini harganya turun.”

“Tak apa”, tanpa pikir panjang Aku menerima tawaran itu dan langsung terima uang itu.

lalu dengan cepat Aku langsung mampir ke warung untuk membeli dua kotak susu formula, beberapa sachet bubur bayi, dan kebutuhan kecil lainnya. Sisanya aku simpan.


Malam hari, aku pulang. Di depan pintu rumah, aku mengatur napas sejenak. Aku harus terlihat panik tapi tetap meyakinkan.

Begitu masuk, istriku langsung bangkit. “Kamu kenapa, Yah?”

Aku menjatuhkan tasku ke lantai, duduk lemas. “Aku kecopetan di bus. Tasku disobek, HP hilang… dompet juga,” kataku dengan suara lirih

Matanya membesar. “Astaghfirullah… serius?”

Aku mengangguk. “Maaf ya, aku ceroboh banget.”

Tapi sebelum dia sempat menjawab, aku keluarkan uang sisa hasil penjualan HP.

“Ini… untungnya aku masih sempat pinjam ke orang. Buat beli susu. Gak apa-apa aku gak punya HP. Yang penting anak kita gak kelaparan.”

Istriku menatap uang itu, lalu menatapku. Ada air bening di matanya, tapi dia tidak menangis. Hanya mengangguk pelan dan memelukku tanpa kata.


Esoknya, aku bilang padanya bahwa aku dapat pekerjaan selama tiga hari di luar kota. walaupun sebenarnya, aku hanya ke rumah ibuku. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri, mencari solusi baru.


Tiga hari kemudian, aku pulang.

Istriku menyambut dengan senyum kecil. “Capek?”

Aku mengangguk. Tapi di matanya, ada sesuatu. Seolah dia tahu lebih dari yang dia tanyakan. Tapi dia memilih diam. Dia menyodorkan segelas air hangat dan memintaku mandi.

Malam itu, saat kami berdua sudah berbaring, dia berkata pelan, “Aku tahu kamu bohong soal HP itu.”

Aku menoleh cepat. “Dari mana kamu tahu?”

Dia hanya menatapku dengan tatapan penuh kasih. “Istri itu tahu, Yah… Tapi aku juga tahu, kamu lakukan itu bukan buat dirimu. Kamu jual HP, ya?”

Aku mengangguk pelan. “Maaf.”

Dia menggenggam tanganku. “Gak usah minta maaf. Aku justru bangga. Terima kasih udah berjuang. Aku tahu itu berat.”

Aku memalingkan wajah, menahan air mata yang menggenang. Malam itu aku menangis dalam diam, untuk semua laki-laki yang harus tampak kuat di luar, meski remuk di dalam.


Kini, setiap kali aku melihat anakku tertawa dengan gigi-gigi mungilnya, aku tahu semua kebohongan, semua rasa lapar, dan semua luka itu ada artinya.

Dan aku percaya, menjadi seorang suami bukan soal selalu bisa memberi yang terbaik, tapi selalu siap memberi apa yang tersisa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!